Umat Islam dapat melaksanakan Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar ketika kekeringan terjadi atau hujan tidak kunjung turun dalam waktu yang cukup panjang.
Salat sunnah ini dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar memberikan hujan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.
Ketersediaan air berkaitan erat dengan berbagai kebutuhan, mulai dari aktivitas rumah tangga hingga pertanian, perkebunan, dan pangan.
Ketika kemarau menyebabkan sumber air menurun, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, doa, amal saleh, serta dapat melaksanakan Salat Istisqa.
Apa Itu Salat Istisqa?
Istisqa atau al-istisqa memiliki makna meminta curahan air penghidupan atau thalab al-saqaya. Dalam ketentuan fikih, Salat Istisqa termasuk salat sunnah muakkadah yang dilakukan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.
Amalan tersebut telah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW pernah keluar untuk memohon hujan. Beliau kemudian mengerjakan salat dua rakaat tanpa azan dan iqamat, dilanjutkan dengan khutbah dan doa. Dalam pelaksanaannya, Rasulullah SAW menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, serta membalikkan selendangnya.
Riwayat tersebut tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Waktu Pelaksanaan Salat Istisqa
Salat Istisqa dilaksanakan ketika masyarakat menghadapi kekeringan dan hujan belum juga turun. Pelaksanaannya dilakukan pada siang hari setelah matahari terbit, sebagaimana keterangan dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah r.a.
Sebagian ulama membolehkan pelaksanaan Salat Istisqa hingga sore hari. Namun, pelaksanaannya tetap perlu menghindari waktu yang dilarang untuk salat, yaitu saat matahari berada tepat di atas kepala dan ketika matahari hampir terbenam.
Apabila hujan belum turun, Salat Istisqa dapat kembali dilaksanakan.
Persiapan Sebelum Salat Istisqa
Umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri dengan memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah SWT sebelum melaksanakan Salat Istisqa. Selain itu, zikir, sedekah, dan puasa sunnah dapat dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar.
Pakaian yang digunakan sebaiknya sederhana dan tidak berlebihan. Dalam hal ini, pakaian untuk Salat Istisqa tidak perlu dibuat seperti pakaian yang dikenakan ketika melaksanakan Salat Id.
Niat Salat Istisqa
Salat Istisqa dikerjakan sebanyak dua rakaat. Niat yang dapat dibaca adalah:
أصلي سنة الاستسقاء ركعتين مستقبل القبلة اماما/ماموما لله تعالى
Ushallii sunnatal istisqaa’i rak’ataini ma’muuman lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku menyengaja salat sunnah meminta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.”
Urutan Pelaksanaan Salat Istisqa
Salat Istisqa dapat dilaksanakan secara berjamaah di tanah lapang atau lokasi lain yang memungkinkan. Tidak ada azan maupun iqamat dalam pelaksanaannya.
Berikut urutan salatnya:
- Imam bersama makmum berkumpul untuk melaksanakan Salat Istisqa secara berjamaah.
- Salat dimulai tanpa azan dan iqamat.
- Niat Salat Istisqa dibaca sesuai kedudukan sebagai imam atau makmum.
- Setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, imam melakukan takbir tambahan sebanyak 7 kali.
- Imam membaca Surah Al-Fatihah dan surah lainnya dengan suara yang dapat didengar oleh jamaah.
- Rangkaian salat kemudian dilanjutkan dengan rukuk, dua kali sujud, dan duduk di antara dua sujud.
- Pada rakaat kedua, takbir tambahan dilakukan sebanyak 5 kali sebelum membaca Al-Fatihah.
- Imam kembali membaca Al-Fatihah dan surah lainnya, kemudian menyelesaikan gerakan salat hingga sujud.
- Setelah seluruh rangkaian rakaat selesai, dilakukan tahiyat akhir dengan bacaan tahiyat, tasyahud, dan salawat sebagaimana dalam salat wajib.
- Salat diakhiri dengan salam ke arah kanan dan kiri.
- Setelah salat selesai, imam menyampaikan khutbah Istisqa.
Ketentuan Khutbah Salat Istisqa
Khutbah Istisqa dilakukan sebanyak dua kali dengan khatib berdiri dan duduk di antara kedua khutbah. Tata pelaksanaannya pada dasarnya mengikuti ketentuan khutbah Salat Id.
Salah satu tata cara yang disebutkan adalah membaca takbir sebanyak 9 kali pada khutbah pertama dan 7 kali pada khutbah kedua. Khatib juga dianjurkan memperbanyak istighfar dan mengajak jamaah bertobat serta memohon ampun kepada Allah SWT.
Pada khutbah kedua, doa untuk meminta hujan dapat diperbanyak. Khatib kemudian menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Sebagaimana praktik yang disebutkan dalam hadis, selendang atau sorban juga dibalikkan dari sisi kanan ke kiri.
Salat Istisqa Berdasarkan Fatwa Majelis Tarjih
Fatwa Majelis Tarjih menjelaskan Salat Istisqa dilaksanakan dua rakaat tanpa azan dan iqamat. Imam membaca bacaan salat dengan suara yang jelas agar dapat didengar oleh jamaah.
Salat tersebut dapat dilakukan di tempat terbuka maupun masjid. Jika pelaksanaannya dilakukan secara khusus setelah matahari terbit, imam kemudian menyampaikan khutbah singkat yang berisi istighfar dan doa meminta hujan.
Doa Istisqa juga dapat disampaikan dalam khutbah Jumat pada hari Jumat. Jika hujan masih belum turun, Salat Istisqa secara khusus dapat kembali dilaksanakan pada pagi hari berikutnya setelah matahari terbit.
Doa untuk Memohon Turunnya Hujan
Doa menjadi bagian penting dalam Salat Istisqa karena tujuan ibadah ini adalah memohon curahan hujan kepada Allah SWT. Beberapa doa yang dapat dibaca antara lain sebagai berikut.
Doa 1
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا هَنِيئًا مَرِيعًا غَدَقًا مُجَلَّلًا عَامًّا طَبَقًا سَحًّا دَائِمًا
Allāhummasqinā ghaitsan mughītsan hanī’an marī’an ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan dā’iman.
Artinya: “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi.”
Doa 2
اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ
Allāhummasqinal ghaitsa, wa lā taj’alnā minal qānithīn.
Artinya: “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan.”
Doa 3
اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْبَهَائِمِ وَالْخَلْقِ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ
Allāhumma inna bil-‘ibādi wal-bilādi wal-bahā’imi wal-khalqi minal-balā’i wal-juhdi wad-dhanki mā lā nasykū illā ilaika.
Artinya: “Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan yang hanya kami adukan kepada-Mu.”
Doa 4
اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ
Allāhumma anbit lanaz-zar’a, wa adrir lanad-dhar’a, wasqinā min barakātis-samā’i, wa anbit lanā min barakātil-ardhi.
Artinya: “Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan kepada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu.”
Doa 5
اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوعَ وَالْعُرْيَ وَاكْشِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
Allāhummarfa’ ‘annal-jahda wal-jū’a wal-‘urā, waksyif ‘annal-balā’a mā lā yaksyifuhū ghairuka.
Artinya: “Ya Allah, angkat dari bahu kami kesusahan paceklik, kelaparan, dan ketandusan. Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat
diatasi oleh-Mu.”
Doa 6
اللَّهُمَّ إِنَا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا
Allāhumma innā nastaghfiruka, innaka kunta ghaffārā, fa arsilis-samā’a ‘alainā midrārā.
Artinya: “Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu karena Engkau Maha Pengampun. Maka turunkan kepada kami hujan deras dari langit-Mu.”
Doa Tambahan dalam Permohonan Hujan
Jamaah juga dapat memanjatkan doa bersama agar hujan yang turun membawa rahmat dan tidak menimbulkan mudarat. Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:
اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أُنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ
Allāhumma antallāhu lā ilāha illā anta, antal-ghaniyyu wa nahnul-fuqarā’u, anzil ‘alainal-ghaitsa waj’al mā anzalta lanā quwwatan wa balāghan ilā hīn.
Permohonan tersebut dapat dilanjutkan dengan doa agar Allah SWT memberikan air kepada hamba-Nya dan hewan serta menghidupkan kembali wilayah yang mengalami kekeringan.
Penutup
Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam saat menghadapi kekeringan dan kemarau yang berkepanjangan. Ibadah ini dilaksanakan sebanyak dua rakaat tanpa azan dan iqamat, kemudian dilanjutkan dengan khutbah serta doa untuk memohon turunnya hujan.
Selain melaksanakan Salat Istisqa, umat Islam dapat memperbanyak istighfar, bertobat, bersedekah, dan menggunakan air secara bijaksana. Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kekeringan sekaligus menjaga ketersediaan air dan lingkungan.
